expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Pemeriksaan Pendeteksi Penyakit Kencing Manis

Pemeriksaan Pendeteksi Penyakit Kencing Manis Diabetes
Pemeriksaan Kencing Manis
Dahulu, untuk mendiagnosis diabetes atau penyakit kencing manis, dokter harus membaui bahkan mencicipi urine pasien. Seiring perkembangan jaman, muncul beragam prosedur dan alat baru untuk mengetahui ada tidaknya gula di dalam urine pasien, diantaranya pemeriksaan di laboratorium, pemeriksaan glukosa darah secara mandiri menggunakan glukoce meter dan pemeriksaan HbA1c. Masing-masing pemeriksaan memiliki kekurangan dan kelebihan. Lalu pemeriksaan Kencing Manis mana yang cocok bagi anda?


PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH DI LABORATORIUM
      Merupakan pemeriksaan standar di seluruh dunia. Pemeriksaan dilakukan terhadap darah yang diambil menggunakan jarum suntik dari pembuluh vena, biasanya di lengan. Setelah itu, darah akan diputar menggunakan mesin agar  sel-selnya mengendap. Kemudian, cairan jernih (plasma) yang tidak ikut mengendap inilah yang akan diperiksa kadar glukosanya.

       Pemeriksaan ini dapat dilakukan kapan saja. Namun, untuk menentukan apakah seseorang menderita diabetes, diperlukan pemeriksaan yang disebut pre-prandial dan tes toleransi glukosa. “Pemeriksaan pre-prandial adalah pemeriksaan glukosa darah yang dilakukan pada keadaan puasa selama 8 hingga 12 jam. Oleh sebab itu, pemeriksaan ini sering disebut dengan pemeriksaan glukosa darah puasa, Pemeriksaan glukosa darah puasa merupakan cara yang paling mudah dilakukan, aman, nyaman, dan murah.

    Glukosa darah puasa yang normal adalah di antara 70 dan 126 mg/dl. Namun jika dalam dua kali pemeriksaan darah puasa secara terpisah menunjukkan hasil ≥ 130 mg/dL, maka pasien dianggap mengalami diabetes, mungkin diperlukan pemeriksaan glukosa darah berikutnya, yaitu tes toleransi glukosa.

    Pada orang tertentu, hasil pemeriksaan glukosa darah bisa normal. Akan tetapi, kadar ini dapat meningkat dengan drastis setelah makan. Hal ini disebut dengan intoleransi glukosa terganggu (IGT). “Jika kadarini sangat tinggi, tidak menutup kemungkinan bahwa orang tersebut mengalami diabetes. Untuk mengetahui hal ini, kita dapat melakukan tes toleransi glukosa. Caranya adalah dengan memberikan larutan gula sebanyak 75 gram untuk diminum, dan kemudian diperiksa kadar glukosa darahnya setelah 2 jam pasien meminum larutan tersebut.

        Meskipun merupakan standar baku diagnosis diabetes, pemeriksaan ini sudah jarang digunakan untuk menegakkan diagnosis, tetapi sangat berharga untuk mendeteksi adanya pre diabetes dalam bentuk impaired glucose tolerance (IGT) dan menentukan ada tidaknya diabetes gestasional (Kencing Manis saat Kehamilan).

       Agar hasil pemeriksaan toleransi glukosa dapat akurat dan dipercaya, maka pasien harus dalam keadaan sehat walafiat, tanpa penyakit ringan sekalipun. Pasien juga harus tetap aktif ( tidak tidur-tiduran saja) dan tidak sedang menggunakan obat yang dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Pasien juga harus menghindari makanan tinggi karbohidrat. Bahkan, sejak 3 hari sebelum pemeriksaan pasien tidak diperbolehkan mengkonsumsi diet tinggi karbohidrat ( 150-200 gram per hari ). Pagi sebelum pemeriksaan pasien juga harus menghindari asap rokok serta kopi.

       Terkadang, ada juga yang melakukan pemeriksaan glukosa darah dua jam setelah makan. Pemeriksaan seperti ini disebut dengan pemeriksaan glukosa darah dua jam setelah makan. Pemeriksaan seperti ini disebut dengan pemeriksaan glukosa 2 jam post-prandial (setelah makan). Fungsinya hampir sama dengan tes toleransi glukosa. Hanya saja kurang akurat karena kadar glukosa bergantug pada makanan yang dimakan oleh pasien.

 
PEMERIKSAAN DARAH MANDIRI DI RUMAH
     Dahulu, diabetes harus memeriksakan kadar glukosa darahnya secara rutin ke rumah sakit satu bulan sekali. Hal ini tentu merepotkan dan menyebabkan kadar glukosa menjadi sulit terkontrol. Sekarang alat pemeriksaan glukosa darah secara mandiri dapat dengan mudah ditemukan dimana-mana. Harga alat cukup terjangkau, dan biaya yang perlu dikeluarkan untuk sekali pemeriksaan jauh lebih kecil dibandingkan dengan pemeriksaan di laboratorium. Jarum yang digunakan didesain sedemikian rupa sehingga rasa sakit yang ditimbulkan sangat minimal. Alat ini mudah dioperasikan, bahkan untuk pasien lanjut usia sekalipun. Karena itu, alat ini banyak digunakan untuk memantau naik turunnya glukosa darah sepanjang hari.

        Alat ini juga sangat bermanfaat bagi mereka yang menggunakan insulin kerja cepat sebagai terapi utama. Tinggal menyesuaikan dosis dengan kadar glukosa saat itu, pasien pun dapat melenggang tanpa kuatir kadar glukosanya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Alat ini juga dapat dimanfaatkan oleh dokter untuk memantau keberhasilan terapi. Pasien diminta untuk mencatat kadar glukosa darah hariannya setiap kali sebelum makan, 2 jam setelah makan, dan pada malam hari sebelum tidur. Dengan memperhatikan pola naik turunnya glukosa sepanjang hari, dokter dapat menentukan strategi yang tepat dalam pengobatan pasien.

       Pemeriksaan glukosa darah mandiri kurang akurat dibanding pemeriksaan darah di laboratorium. Satu hal lagi yang mengharuskan penderita diabetes untuk tetap sesekali memeriksakan kadar glukosa darahnya di laboratorium adalah terkadang alat pemeriksaan mandiri yang sudah lama menjadi rusak dan semakin tidak akurat. Alat ini sebaiknya dikalibrasi ke perusahaan pembuatnya. Untuk mengetahui apakah alat masih baik, anda juga dapat memeriksakan kadar glukosa menggunakan alat tersebut dalam waktu sekitar 5 menit setelah darah diambil di laboratorium. Jika hasilnya hanya meleset 20 mg/dL, maka alat masih dapat dikatakan dalam keadaan baik.

PEMERIKSAAN HBA1C
         Pemeriksaan ini semakin banyak digunakan dan menjadi salah satu standar penting dalam menegakkan diagnosis serta menentukan strategi pengobatan pada diabetes. Berdasarkan panduan dari American Diabetes Association (ADA), kadar HbA1C ≥ 6,5% menunjukkan adanya diabetes. Sedangkan kadar 5,7 – 6,4% digolongkan kedalam prediabetes.

      HbA1C menunjukkan banyaknya jumlah glukosa yang masuk kedalam darah dan berikatan dengan hemoglobin yang terdapat di dalam sel darah merah. Hemoglobin yang berikatan dengan glukosa akan mengalami reaksi yang disebut glikasi. Semakin tinggi glukosa yang terdapat di dalam darah, jumlah hemoglobin yang terglikasi juga akan semakin banyak.

       Pemeriksaan HbA1C memberikan gambaran kadar glukosa darah rata-rata dalam 2 hingga 3 bulan terakhir, yaitu sesuai dengan panjang umur sel darah merah (120 hari). Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai keberhasilan terapi dan memperkirakan komplikasi jangka panjang akibat diabetes. Pemeriksaan ini juga sering dimanfaatkan dokter untuk menginformasikan hasil pemeriksaan di laboratorium dan pemeriksaan glukosa darah mandiri anda.

         Ada diabetisi yang bandel, karena takut disuruh diet oleh dokter, ia hanya menjalani gaya hidup sehat beberapa hari menjelang kontrol ke dokter. Hasilnya, pemeriksaan glukosa darahnya di laboratorium selalu bagus. Padahal, di hari-hari lain ia makan sepuasnya tanpa memperdulikan kadar glukosa, dan meninggalkan gaya hidup yang sehat. Dengan pemeriksaan HbA1C, dokter tidak akan bisa tertipu, karena dari hasil HbA1C dokter dapat memperkirakan kadar glukosa darah rata-rata pasien selama 3 bulan terakhir. Selain mahal, pemeriksaan ini tidak dapat menggantikan pemeriksaan kadar glukosa darah di laboratorium dalam menegakkan diagnosis diabetes. Pemeriksaan kadar HbA1C juga tidak dapat mendeteksi jika anda mengalami intoleransi glukosa, yaitu kadar glukosa yang hanya tinggi setelah makan. Karena itu, pemeriksaan ini umumnya cocok untuk mengetahui adanya hiperglikemia yang kronik dan memperkirakan komplikasi diabetes jangka panjang.


BERBEDA – BEDA SESUAI KEBUTUHAN 
        Masing-masing pemeriksaan glukosa darah diatas memiliki kelebihan dan kekurangan. Ketiganya juga memiliki manfaat yang berbeda-beda. Jika anda sering buang air kecil pada malam hari, merasa haus terus-menerus, cepat merasa lapar, berat badan turun banyak secara mendadak, dan memilki keluarga dengan diabetes, ada baiknya anda memeriksakan kadar glukosa darah dan HbA1C di laboratorium. Sedangkan jika sudah didiagnosis mengalami diabetes, saatnya periksakan glukosa menggunakan alat periksa glukosa darah mandiri untuk keperluan sehari-hari,dilaboratorium sesekali, dan periksakan kadar HbA1C untuk memantau keberhasilan terapi. Alat periksa darah glukosa mandiri juga perlengkapan perang wajib bagi diabetisi yang menggunakan insulin, yang glukosa darahnya terus membandel tidak turun-turun, serta yang memiliki riwayat glukosa darah terlalu rendah secara mendadak.

        Pemeriksaan menggunakan urin sudah sangat jarang digunakan sebagai patokan kadar glukosa di dalam tubuh. Meski demikian, pemeriksaan urine mungkin diperlukan sewaktu-waktu untuk memeriksa ada tidaknya keton, zat beracun yang terbentuk saat glukosa darah melonjak tak terkendali.

        Bagaimana jika kadar glukosa tidak kunjung turun? Hasil pemeriksaan kadar glukosa tidak jarang menimbulkan perasaan sedih, bingung, marah, frustasi, hingga kecewa. Perlu diingat, baik oleh diabetisi maupun dokter, angka tersebut bukanlah alasan untuk memojokkan pasien dan menghentikan pemeriksaan, bahkan menghentikan terapi. Diabetisi tetap harus ingat bahwa pemeriksaan tetap diperlukan untuk memantau keberhasilan terapi. Kadar glukosa yang tidak sesuai harapan, adalah sahabat anda juga, karena dengan demikian kita tahu bahwa rencana terapi perlu dirubah. Serta jangan takut untuk memulai terapi insulin bagi mereka penderita diabetes, karena terapi insulin bukan akhir dari kehidupan anda. Atau vonis bahwa diabetes pasien sudah dalam kondisi yang sangat parah. Pemberian insulin dapat mengkontrol gula darah penderita, sehingga mencegah komplikasi penyakit diabetes lebih lanjut seperti gagal ginjal atau penyakit jantung koroner bahkan impotensi.


Sumber gambar
http://www.necturajuice.com/deteksi-penyakit-diabetes

No comments :

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...