expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Difteri Bukan Masalah Sepele

Difteri bukan masalah sepele
        Difteri merupakan infeksi bakteri yang serius karena dapat mengakibatkan kematian bila tidak diatasi dengan cepat dan tepat. kuncinya adalah mengenali gejala dan segera membawa ke dokter.

Apa itu difteri?
       Difteri merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphterie. Kuman tersebut masuk melalui mukosa/kulit dan berkembang biak pada permukaan mukosa saluran nafas bagian atas. Penularannya melalui droplet (percikan ludah) ketika batuk, bersin dan bicara.
       Jika kuman itu sudah melekat pada nasofaring (tenggorokan bagian atas), kuman akan memproduksi toksin (racun) yang menghambat sintesis protein dan menyebabkan kerusakan jaringan dan terbentuklah suatu selaput (membran) yang dapat menyumbat jalan nafas. Toksin yang terbentuk di membran tersebut kemudian diserap ke dalam aliran darah dan dibawa ke seluruh tubuh. 
Dahulu kuman itu merupakan salah satu penyebab kematian namun sejak ditemukan obat antibiotik angka kematian mulai menurun. Walau begitu, difteri harus tetap diwaspadai karena jika tidak diantisipasi maka risiko kematian tetap masih mengancam.

Bagaimana gejala Difteri?
          Gejala klinis yang muncul akibat infeksi kuman ini terjadi setelah 2 hingga 6 hari terinfeksi kuman, namun bisa juga memanjang hingga 10 hari baru gejalanya terlihat. Gejala klinis yang muncul dapat bervariasi dari tanpa gejala sampai kondisi yang berat tergantung pada beberapa faktor seperti imunitas pasien terhadap toksin difteri, kemampuan kuman membantuk toksin dan lokasi penyakit secara anatomis di dalam saluran nafas.
Pada difteri tonsil-faring, gejala yang muncul diantaranya: 
a. Demam dan lemah di seluruh badan
b. Kerongkongan terasa kering dan meradang
c. Sulit dan nyeri saat menelan
d. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening pada leher yang disertai edema/pembengkaan jaringan lunak leher yang luas (bullneck) atau punuk
e. Terdapat membran berwarna putih abu-abu yang menutupi tonsil dan dinsing faring yang mudah berdarah.

Cara mengobati penyakit Difteri
          Tujuan pengobatan adalah menginaktivasi toksin yang belum terikat secepatnya, mencegah timbulnya komplikasi, mencegah penularan dengan mengeliminasi kuman serta mengobati infeksi difteri itu sendiri. Pasien yang sudah didiagnosis difteri, menjalani perawatan di rumah sakit. Pasien biasanya ditempatkan pada ruang tertentu agar tidak menulari pasien lain. Pengobatan yang diberikan adalah diberikan serum anti difteri (ADS) untuk mengatasi racun yang masuk, selain itu diberikan antibiotik yang bertujuan untuk membunuh bakteri dan menghentikan produksi toksin. Pemberian steroid pada pasien difteri sampai saat ini masih belum terdapat persamaan pendapat di antara para ahli. Steroid dapat diberikan pada kasus difteri bila ditemukan adanya tanda-tanda obstruksi saluran nafas bagian atas.
        Setelah diberikan pengobatan penderita difteri biasanya masih mendapat perawatn untuk memperbaiki kondisinya. Selain itu perlu bagi orang sekitar pasien untuk mempertahankan kesehatan dan menghindari penularan dari penderita.

Cara pencegahan Difteri
         Untuk mencegah difteri dianjurkan pemberian vaksin difteri yang terdapat pada vaksin DPT (Diphterie, Pertussis, Tetanus). Pemberian imunisasi dilakukan secara berkala, mulai dari usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan 15-18 bulan serta saat masuk sekolah.
       Lama kekebalan sesudah mendapatkan imunisasi merupakan masalah yang penting diperhatikan. beberapa penelitian membuktikan adanya penurunan kekebalan sesudah kurun waktu tertentu, untuk itu diperlukan pemberian imunisasi ulang sebagai penguat anak yang diberikan vaksin DPT mungkin saja mengalami demam, atau gejala lain. Untuk mengatasi hal itu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, agar anak menjadi nyaman dan terhindar dari komplikasi yang tidak diharapkan.


No comments :

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...